Wiiii… barusan, kemaren, ngumpul ama temen temen waktu di kampus dulu. Semacam reuni lah. Kami sudah terpisah sejak wisuda. Yang wisuda. Tapi ada yang belum wisuda
. Kami memilih lesehan di angkringan aja. Lebih bebas. Dan tentu saja lebih murah.
Yang tak lihat, mudah-mudahan gak salah, fenomena angkringan sekarang lebih laris. Kemaren, waktu jam masih belum ada jam 9 malam, sudah ada penjual angkringan yang pulang. Kayaknya sih habis. Wong dagangannya dah “bersih”. Atau mungkin tu orang hanya mendorong gerobak kosong? mondar-mandir.
.
Daripada yang jualan orang asing, emang lebih bersyukur kalau dagangan yang laris-laris adalah penjual dari lokal. Coba teman2 tanya pada yang jual angkringan.
“Mas, dari mana asalnya?”
Mungkin jika tanya pada 3-4 orang penjual, akan ditemui jawaban yang sama.
“Dari Klaten.”
Ya, aku sendiri belum pernah survei alias “sensus”. Tapi kayaknya emang gitu. Banyak juga yang dari kecamatan Bayat, sebuah kecamatan di Klaten.
Inikah yang dinamakan ekonomi mikro yang sehat? Kalau ditinjau dari disiplin ilmu ekonomi, aku ndak terlalu tau, wong aku gak kuliah di fakultas ekonomi. Tapi dari segi “hati”, kayaknya itu ekonomi yang berjalan sehat di kalangan wong cilik. So, kasihan deh kalau pelaku ekonomi yang mengumpulkan uang dikit demi dikit, harus menanggung utang dari pembelinya dan terjerat lintah darat yang mencekik leher mereka.